Bukan Bayangan di Antara Puing

  • Oct 17, 2024
  • Arif Nasri
  • ARTIKEL

Puisi oleh Leni Marlina


1)
Jangan lihat kami hanya sebagai bayangan,
terserak di antara puing-puing yang berbisik,
kami adalah napas yang masih punya sisa waktu,
berdesir di sela-sela ledakan masih punya harapan.


Kami tak punya waktu untuk menangis,
air mata kami terkunci di sumur kering,
di mana mimpi-mimpi tertimbun batu,
dan langit menganga dengan lubang-lubang tak bernama.


Dengarlah! 
Kami tak merintih, kami berteriak,
mengejar suara kami yang tenggelam di debu,
di mana pasir pun menolak menjadi tempat bermain,
karena setiap butirnya menyimpan cerita kematian.

2)
Kami, dengan tangan kecil yang menyentuh retakan tembok,
menggambar matahari dari serpihan kaca,
senyum kami menguap di udara yang pahit,
tawa kami sudah tiada diantara bau mesiu yang menyengat.


Jangan kira kami hanya tahu takut,
kami belajar dari derak tank yang menghantam,
mengenal cinta dari pelukan yang tak sempat,
dan memikirkan masa depan di balik kawat berduri.


Kami tak lagi menunggu fajar,
karena malam di sini terlalu panjang,
kami nyalakan api dari nyali yang tersisa,
dan berjalan di atas arang, telapak kami terpanggang.


3)
Kami bukan sekadar angka di layar berita,
bukan deretan nama di daftar korban,
kami adalah puisi yang berani menantang maut,
menari di jurang gelap, mencari pagi dengan tangan terkepal.


Jangan kau pikir kami akan hilang,
karena meski dunia menutup mata,
kami tetap di sini, membangun kekuatan iman, meskipun rumah kami sudah menjadi abu,
suatu hari kami kan menjadi bintang, yang tak henti berpendar,
mengubah duka ini menjadi ledakan cahaya.


Padang, Sumbar, 2024

 

Ilustrasi Puisi Leni Marlina "Bukan Bayangan di Antara Puing. Sumber gambar: Starcom Indonesia's Painting Collection No.64 by AI