CINTA DI PELABUHAN TALIABU

  • Oct 16, 2024
  • Arif Nasri
  • ARTIKEL

Di atas kertas basah oleh air mata, Laras menulis dengan tangan yang bergetar. Kata-katanya mengalir deras, penuh rasa rindu yang tak kunjung padam. Di setiap goresan pena, terukir kenangan tentang Raka—pria yang pernah mengarungi laut Halmahera bersamanya, menanamkan cinta dalam setiap hembusan angin. Namun, saat Raka berpaling, menyebut Taliabu sebagai tujuan berikutnya, harapan Laras seperti terhempas oleh ombak yang ganas.

“Ingin sekali aku bertanya, ke mana setelah Taliabu?” Laras bergumam pada dirinya sendiri. Namun, kalimat itu terhenti di tenggorokan, tak mampu terucap. Raka telah pergi, meninggalkan Laras dengan perasaan hampa, menanti senja di tepian Taliabu yang sepi. Raka, pergi dengan jawaban yang tak pernah ingin Laras dengar: “Taliabu, pelabuhan akhir cinta kita berlabuh.”

Hari-hari di Taliabu terasa seperti mimpinya yang paling buruk. Laut menghapus jejak langkah mereka, menenggelamkan kenangan dalam samudera. Raka yang dulu penuh semangat kini hanya tersisa sebagai bayangan dalam ingatan. Spidbud yang dulu membawa mereka menjelajahi pulau-pulau indah kini tampak tak berarti, menghantam segala mimpi yang mereka rajut bersama.

“Taliabu…” Laras merintih, suaranya tercekat. Ia tak mampu melawan gelombang takdir yang membawa Raka pergi. Hanya bisa terdiam saat kapal impian itu menghantam, menyaksikan ombak menyeret Raka jauh ke dalam samudera yang tak kasat mata, bersamaan dengan doa-doa yang terucap dalam sepi.

Kini, semua yang tersisa hanyalah kenangan yang larut dalam aliran waktu. Rindu Laras tenggelam dalam deburan pasang. Raka telah membawa serta hatinya, sejauh kapal yang karam, tenggelam di dasar lautan tak bernama. Laras merasa terdampar di antara puing-puing ingatan, berjuang berdiri meski tak lagi utuh.

“Sayangku, di mana pun kau berlabuh kini…” Laras berbisik lembut kepada angin. Ia tahu, meski terpisah oleh jarak dan waktu, Raka masih menggenggam hatinya yang pilu. Dengan langkah pelan, Laras mendekati pantai yang sunyi. Setiap detik berlalu terasa seperti seribu tahun. Ia menghitung waktu tanpa janji yang kembali. Setiap hari ia datang ke sini, menanti dengan harapan yang mungkin sia-sia.

Ia menunduk, menggoreskan jari telunjuknya di pasir basah. “Raka,” ucapnya pelan, sambil menulis namanya. Air mata mengalir membasahi pasir, seolah menciptakan jejak yang tak akan pernah hilang. “Aku akan menunggu sampai akhir waktu.”

Namun, dalam kedalaman hatinya, Laras menyadari satu hal yang tak pernah lekang oleh waktu: cinta yang lahir dari jiwa tak akan mengenal perpisahan. Meski mereka terpisah oleh samudera dan waktu, cinta itu selamanya akan ada di sini, di antara hembusan angin dan ombak yang membelai lembut.

Satu bulan berlalu. Laras kembali ke dermaga, tempat yang penuh dengan kenangan. Ia mengingat setiap detik saat bersama Raka—senyumnya, candanya, dan cara Raka melihat dunia seolah semuanya mungkin. Namun, tempat itu kini terasa sunyi. Hanya suara ombak dan desir angin yang menemani kesendiriannya.

“Raka…,” Laras memanggil lembut, berharap suatu hari ia bisa mendengar jawaban. “Kapan kau kembali?”

Malam tiba, menghampiri dengan cahayanya yang redup. Laras duduk di tepi pantai, memandangi bintang-bintang yang berkilauan. Ia seringkali membayangkan Raka ada di sana, di antara bintang-bintang. “Kau adalah bintang paling terang dalam hidupku,” ia berkata dalam hati.

Suatu malam, ketika bulan purnama menyinari lautan, Laras melihat sesuatu yang berkilau di kejauhan. Sebuah kapal. Jantungnya berdebar kencang, harapan muncul kembali. “Raka…,” bisiknya, dan ia melangkah maju, berusaha menangkap bayangan itu. Namun, saat kapal itu mendekat, semua harapan Laras lenyap. Kapal itu bukan Raka. Kapal itu hanya kapal nelayan, melaut untuk mencari ikan.

Kembali lagi ia terjatuh dalam kesedihan yang tak berujung. Ia merasa seperti terjebak dalam siklus kesedihan yang sama. Namun, takdir memiliki rencana lain. Dalam satu hari yang biasa, saat ia kembali ke dermaga, Laras melihat sekelompok anak-anak bermain di pantai. Mereka tertawa, berlarian, dan terinspirasi oleh ombak. Melihat kebahagiaan mereka, Laras tersenyum.

Tiba-tiba, salah satu anak berlari mendekatinya. “Kakak, kenapa kakak selalu sendiri?” tanya anak itu polos.

Laras terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan itu. “Karena aku menunggu seseorang,” jawabnya. “Seseorang yang sangat aku cintai.”

“Apakah dia pergi jauh?” anak itu bertanya lagi.

“Ya, sangat jauh,” Laras menjawab.

Anak itu tersenyum lebar. “Kalau begitu, kakak harus percaya dia akan kembali. Cinta itu kuat, kan?”

Laras tertegun mendengar kata-kata itu. Mungkin ia harus percaya, meski Raka tak ada di sisinya. Cinta yang mereka miliki adalah sesuatu yang kuat dan abadi, dan ia akan selalu menyimpannya di dalam hati.

Hari-hari berlalu, dan Laras perlahan menemukan kembali diri dan harapannya. Ia mulai menulis, menuangkan semua rasa dan kenangan dalam puisi. Setiap bait yang ia tulis adalah ungkapan cinta yang tak pernah padam. Ia menyadari bahwa meski Raka tidak ada, cinta mereka masih hidup, dan ia harus merayakannya.

“Cinta kita tak akan pernah mati,” Laras menulis di akhir puisinya. “Meski kau jauh, hatiku akan selalu berlabuh di Taliabu.”

Di Taliabu, pelabuhan akhir cinta mereka, Laras menemukan kekuatan dalam kenangan, dan berjanji untuk terus mencintai Raka, selamanya.

Ilustrasi Puisi Laras Nasri “Cinta kita tak akan pernah mati,” 

Sumber gambar : Arif Nasri dengan bantuan AI