I HODI KA I GEO (Si Lurus dan Si Bengkok)
- Oct 13, 2024
- Arif Nasri
Pada suatu masa, hiduplah dua pemuda bernama I Hodi dan I Geo, yang meski tak memiliki pekerjaan tetap, bersahabat erat. Mereka mengandalkan kekuatan dan keterampilan mereka untuk mencari nafkah, biasanya dengan memungut kayu bakar di hutan atau memancing ikan. Pekerjaan mereka tak menjanjikan banyak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Namun, mereka selalu bersama, saling mendukung, dan bekerja keras untuk bertahan hidup.
Suatu hari, mereka memutuskan untuk mencoba melaut, berharap mendapatkan tangkapan besar untuk dijual. Namun, mereka dihadapkan pada masalah yang cukup besar—mereka tak memiliki perahu atau alat pancing. Setelah berembuk sejenak, mereka sepakat untuk meminjam peralatan dari Babo Ise, seorang nelayan tua yang terkenal baik hati.
Tanpa menunggu lama, mereka bergegas menuju pantai tempat Babo Ise sering berlabuh. Setibanya di sana, mereka mendekati nelayan itu yang sedang memperbaiki perahunya.
“Apa kabar, Babo Ise?” tanya I Hodi dengan sopan.
“Baik-baik saja, anak muda. Kalian mencari sesuatu?” Babo Ise menyahut dengan senyuman ramah.
“Benar, Babo. Kami ingin meminjam perahu dan alat pancing milikmu, kalau boleh,” jawab I Geo dengan harap-harap cemas.
Melihat ketulusan mereka, Babo Ise tak berpikir dua kali. “Baiklah, kalian boleh meminjam perahuku. Tapi, pastikan untuk menjaga perahu dan alat-alat ini dengan baik. Jangan sampai rusak, ya.”
Setelah berterima kasih, I Hodi dan I Geo pun berangkat melaut. Mereka mendayung jauh hingga ke tengah laut, ke tempat yang dipercaya sebagai sarang ikan. Setibanya di sana, dengan penuh semangat, mereka mulai melemparkan kail. Namun, setelah beberapa kali mencoba, tak ada satu pun ikan yang tertangkap. Siang pun mulai beralih ke sore, dan mereka hampir kehabisan umpan.
I Geo mulai kehilangan semangat. “Kita sudah seharian di sini, dan tak ada hasil apa-apa. Semua umpan sudah habis.”
Namun, I Hodi tetap tenang. “Tenang saja, aku masih punya satu umpan lagi. Siapa tahu ini membawa keberuntungan.”
Dengan penuh harapan, I Hodi melempar umpan terakhirnya ke laut. Tak lama kemudian, kailnya tersentak, dan dia dengan sigap menariknya. Seekor ikan besar berhasil dia tangkap. Wajah I Hodi bersinar gembira, sementara I Geo tersenyum lega.
“Walaupun hanya satu ikan, ini cukup besar. Mari kita pulang,” ujar I Geo, lalu mereka mendayung kembali ke pantai dengan perasaan puas.
Namun, begitu mereka tiba di tepi pantai dan menambatkan perahu, muncul perdebatan di antara mereka mengenai pembagian ikan tersebut.
“Kita hanya mendapat satu ekor ikan, jadi aku pikir ikan ini harus dibagi dua. Kamu setengah, aku setengah,” kata I Hodi.
Namun, I Geo tak setuju. “Tidak, ikan ini harus dibagi rata.”
“Bagi dua dan bagi rata kan sama saja?” tanya I Hodi bingung.
“Tidak begitu. Bagi rata artinya semua mendapat bagian. Mari kita potong ikan ini menjadi beberapa bagian,” ujar I Geo sambil mengambil pisau.
I Geo kemudian membagi ikan itu menjadi beberapa bagian. “Kamu ambil kepala, aku ambil ekor,” kata I Geo.
I Hodi terkejut, “Jadi, aku hanya dapat kepala ikan?”
“Pembagian belum selesai. Selain ekor dan kepala, ada bagian untuk perahu, pendayung, sema-sema, pancing, dan tentu saja untuk Babo Ise,” jelas I Geo sambil menunjuk potongan-potongan ikan.
I Hodi merasa kesal. “Aku yang menangkap ikan ini, tapi aku hanya dapat kepala?”
I Geo, seolah merasa di atas angin, menjelaskan lebih lanjut, “Kamu dapat dua bagian. Ini bagian perut ikan untukmu karena kamu yang menangkapnya. Adil, kan?”
I Hodi, yang enggan memperpanjang perdebatan, akhirnya setuju. “Baiklah.”
Namun, kenyataannya, I Geo telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menguntungkan dirinya sendiri. Ia mengambil sebagian besar daging ikan, termasuk potongan-potongan yang katanya untuk perahu dan alat-alat lain. I Geo merasa dirinya lebih beruntung dari I Hodi yang hanya mendapatkan kepala dan perut ikan.
Tetapi nasib berkata lain. Saat I Hodi hendak membersihkan potongan kepala ikan di rumahnya, dia menemukan sesuatu yang mengejutkan. Di dalam perut ikan, tersembunyi sebuah cincin emas dengan hiasan mutiara. Cincin itu bersinar terang, menunjukkan nilainya yang tak terhingga.
I Hodi terdiam sesaat, tak percaya dengan keberuntungan yang didapatnya. Ia segera membawa cincin tersebut ke seorang pedagang kaya yang tinggal di desa terdekat. Sang pedagang, yang mengenali nilai cincin tersebut, menawarkan harga yang sangat tinggi. I Hodi menerima tawaran itu, dan dengan uang hasil penjualan cincin, hidupnya berubah drastis.
I Hodi yang dulu hidup serba kekurangan, kini hidup berkecukupan. Ia membangun rumah yang megah, membeli lahan, dan memulai usaha perdagangan kecil-kecilan yang berkembang pesat. Kehidupannya berubah total, sementara I Geo tetap hidup dalam ketidakpastian, terus-menerus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, berharap nasib baik akan datang menghampirinya seperti yang dialami sahabatnya.
Waktu berlalu, dan I Geo mulai menyadari kesalahannya. Meskipun dulu ia berpikir telah mengakali I Hodi, pada akhirnya, keserakahannya justru merugikan dirinya sendiri. I Geo mulai melihat bahwa kekayaan sejati bukanlah soal mengambil keuntungan dari orang lain, tetapi tentang kejujuran, kerja keras, dan ketulusan hati.
Suatu hari, I Geo mendatangi I Hodi untuk meminta maaf. “Maafkan aku, sahabat. Dulu aku terlalu tamak dan tak tahu diri. Aku menyesal atas apa yang telah kulakukan.”
I Hodi, yang hatinya selalu lapang, tersenyum lembut. “Aku sudah lama memaafkanmu, I Geo. Kita dulu bersahabat, dan sampai sekarang, bagiku, kita tetap sahabat.”
I Geo merasa tersentuh oleh sikap I Hodi yang pemaaf. Mereka berdua kembali bersahabat seperti sedia kala, meskipun kehidupan mereka kini berbeda. I Geo, yang kini lebih bijaksana, memilih untuk mengikuti jejak I Hodi dalam bekerja keras dan hidup sederhana. Meski tak seberuntung I Hodi, hidupnya menjadi lebih tenang karena ia belajar untuk menerima dan mensyukuri apa yang dimilikinya.
Kisah I Hodi dan I Geo menjadi pelajaran bagi banyak orang di desa mereka. Orang-orang mulai menyadari bahwa keserakahan tak pernah membawa kebahagiaan, dan bahwa dalam hidup, kejujuran dan persahabatan adalah harta yang paling berharga.
Kreator : Suparman Tampuyak