KUMPULAN PUISI LENI MARLINA (PADANG) "DI TITIK BATAS"
- Nov 10, 2024
- Arif Nasri
- SASTRA
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina "Di Titik Batas". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 107 by AI
/1/
Di Titik Batas
Oleh Leni Marlina
Aku pahati malam dengan pisau tajam kata-kata,
menyeret cahaya dari sudut gelap tanah—
dua alam tak pernah seimbang di pundakku:
buku berdebu dan tanah basah memerah darah.
Tanganku akar yang mencengkeram bumi,
membelah luka menjadi bahasa harapan.
Aku bicara dengan tanah keras dan sunyi,
menyulam hidup dari patah-patah napas,
menantang angin yang terus bertanya,
“Untuk siapa kau tanamkan doa ini?”
Di titik batas, aku berdiri melawan badai,
sebab aku bukan sekadar petani mimpi;
aku penjaga nyala di ujung gelap,
yang takkan padam.
Padang, Sumbar, 2023
/2/
Langkah Menembus Bayang
Oleh Leni Marlina
Bukan angka di ruang kelas,
aku debu yang melesap dalam bayang,
jejak sunyi di jalan tak bersahabat.
Langkahku mengepul doa yang pekat,
menyeret mimpi yang tersimpan di ketiadaan.
Di dalam diam, aku tenun jalanku,
mengulur diri bak benang kusut
mengikat masa depan di balik dinding-dinding
yang tak terlihat, di mana mereka menunggu.
Aku menembus bayang,
melangkah dalam detak tanpa henti,
setiap pijak melontar tarian sunyi,
melampaui batas, menembus malam,
menggenggam pagi yang tak pernah kosong.
Padang, Sumbar, 2023
/3/
Dua Alam di Pundak
Oleh Leni Marlina
Dalam gulungan pagi yang beku,
aku angkat dua alam—satu di pundak, satu di dada.
Satu menyemai harapan dalam keringat panas,
satu lagi membisikkan teori di sela kantuk dan api.
Tak ada batas yang jelas dalam pandangan.
Aku hanyut dalam deras sungai ilmu,
sementara tangan ini memahat tanah
di punggung perbukitan yang sepi.
Aku tak sekadar angka di kertas,
aku arus liar tak tertahan,
menggulung rintangan, membawa setiap alir
ke tepian di mana harapan berlabuh.
Padang, Sumbar, 2023
/4/
Api yang Membakar Malam
Oleh Leni Marlina
Dalam gulita yang menolak lelap,
aku nyalakan bara dari napas yang terhimpit,
seolah letih ini adalah api dalam dada,
membakar jiwa yang tersembunyi di balik gelap.
Aku bukan penjaga malam belaka,
aku pemahat mimpi dari gerimis keringat.
Kata-kata yang tumpah di kertas
menjadi sayap-sayap kecil,
menembus jarak menuju mereka di tepi pagi.
Meski dunia ini tak peduli,
dalam sepi aku temukan kekuatan,
menyusun batu demi batu jalan
menuju fajar yang takkan mundur,
hamparan yang kubangun
untuk mereka yang percaya pada sinar ini.
Padang, Sumbar, 2023
/5/
Keringat dan Kata yang Menyala
Oleh Leni Marlina
Di sinilah aku, berdiri di tepi mimpi dan kenyataan,
menyulam keringat menjadi cerita,
menenun masa depan dari letih yang mencakar.
Buku ini, bukan sekadar halaman kosong,
ia kisah yang kurajut dengan tenaga yang nyaris padam,
mengisi perut yang lapar dengan dentuman harap.
Aku bukan pengikut garis nasib,
aku pelukis cahaya di langit liar,
menatah dunia dari batu-batu kasar dan kata-kata,
mengubah air mata menjadi permata harapan.
Perjuangan ini mungkin tak berbunyi,
namun aku terus melaju,
menjadi sungai yang bergemuruh dalam diam,
mengalir tak pernah lelah menuju samudera baru
di mana detak harapan takkan padam,
untuk mereka yang menanti fajar penuh sinar.
Padang, Sumbar, 2023
-------------------------
Biografi Singkat
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2023. Puisi ini direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria's Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.